Sabtu, 26 Maret 2016

review puisi

Abdurahman Saleh 

14321128

                               Mata Air


Di musim kemarau semua sumber air di desa itu mengering.
Perempuan-perempuan legam berbondong-bondong menggendong gentong
menuju sebuah sendang di bawah pohon beringin di celah bebukitan.
Tawa mereka yang renyah menggema nyaring di dinding-dinding tebing,
pecah di padang-padang gersang.

Setelah berjalan lima kilometer jauhnya, mereka pun sampai di mataair
yang tak pernah mati itu. Mereka ramai-ramai menuai air membuncah-buncah,
menuai airmata yang mereka tanam di ladang-ladang karang.

Bulan sering turun ke sendang itu, menemani gadis kecil
yang suka mandi sendirian di situ. Langit sangat bahagia
tapi belum ingin meneteskan airmata. Nanti, jika musim hujan tiba,

langit akan memandikan gadis kecil itu dengan airmatanya.



 





Air Mata - Joko Pinurbo

Judul Puisi : Air Mata
Pengarang  : Joko Pinurbo
Tahun        : 2012
Review : Lalu Muhammad Subagia ( 13321132 )

Air Mata

Biarkan Hujan yang haus itu
melahap air mata
yang menddih
di cangkirmu.


Review :

Puisi yag berjudul air ata karya Joko Pinurbo ini meceritakan atau menggambarkan tentang kesedihan yang dialami seorang insan yang tengah dilanda kesedihan mendalam. Ia menangis sebagai tanda atau luapan emosi yang terdapat pada hati dan pikirannya hingga berharap bahwa hujan yang datang mampu menghanyutkan atau melenyapkan air matanya yang terjatuh tercampur di cangkir minumnya.

Hujan Kecil - Joko Pinurbo

Puisi      : Hujan Kecil
Penulis  : Joko Pinurbo
Tahun    : 2012
Review : Whisnu D.Satria ( 13321158 )

Hujan Tumbuh di kepakalaku.
Hujan penyegar Waktu.

Memancur kecil-kecil.
Mericik kecil-kecil.
Dihiasi petir kecil-kecil.


Review :

Hujan tumbuh di kealaku, ada masa di mana hujan itu bersamanya dan dalam ingatannya.
Hujan penyegar waktu, hujan bisa menghapus keburukan yang terjadi.

Memancur kecil-kecil, datanng secara perlahan.
Mericik kecil-kecil, datang secara perlahan.
Dihiasi petir kecil-kecil, bercampur dengan sedikit keburukan.

Hujan masa kecil, itulah hujan yang bersama di masanya, masa yang telah terlalui.

review puisi Keringat - Joko Pinurbo

KERINGAT 

karya  : Joko Pinurbo
Tahun : 2012

REVIEW : RUFALZYH - 13321107

Tiap hari ayah memasukkan
butiran keringat ke dalam botol
dan menyimpannya dalam kulkas.

Bila saya dilanda demam yang ganas,
ayah menuang keringat dinginya
ke dalam gelas, saya minum hingga tandas.

Cenguk. Cenguk. Cenguk. Asunya amblas.


Review :
 Puisi "Keringat" karya Joko Pinurbo di tahun 2012 ini menceritakan atau menggambarkan  sosok seorang ayah yang bekerja dengan giat dan tanpa mengenal lelah dalam mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Selain itu sosok lain seorang ayah pada puisi ini menggambarkan adanya kesabaran dan ketenangan khas seorang lelaki dewasa.
Ayah yang digambarkan dalam puisi ini juga mampu menjaga dan merawat memberi ketenangan serta kehangatan untuk anaknya yang dalam kesusahan. Ia mengeluarkan semua yang ia tidak perlihatkan disaat yang tepat yaitu disaat sosoknya dibutuhkan ketika sang buah hati dalam kesusahan.

Sang anak yang sangat beruntung merasakan kenyamanan dari sang ayah merasa sangat betah dan sangat membutuhkan kesabaran dan ketenangan seorang ayah. Bagaikan candu yang terus saja menagih lagi dan lagi dan tanpa sadar tiada hal yang kekal dan dapat bertahan semau kita.

Jumat, 25 Maret 2016

Review Puisi "Jembatan", Karya Sutardji Calzoum Bachri


Nama : Lukman Adhi 
NIM   : 14321051
Tugas Review puisi Sutardji Calzoum Bahri judul "Jembatan"


JEMBATAN
Oleh: Sutardji Calzoum Bachri
Sedalam-dalam sajak takkan mampu menampung
air mata bangsa. Kata-kata telah lama terperang-
kap dalam basa-basi dalam teduh pekewuh dalam
Isyarat dan kilah tanpa makna.
Maka aku pun pergi menatap pada wajah
orang berjuta.
Wajah orang tergusur
Wajah yang ditilang malang
Wajah legam para pemulung yang memungut
remah-remah pembangunan
Wajah yang hanya mampu menjadi sekedar
penonton etalase indah di berbagai plaza.
Wajah yang diam-diam menjerit melengking
melolong dan mengucap :
tanah air kita satu
bangsa kita satu
bahasa kita satu
bendera kita satu
Tapi wahai saudara satu bendera, kenapa
kini ada sesuatu yang terasa jauh-beda diantara kita ?
Sementara jalan-jalan mekar di mana-mana
menghubungkan kota-kota, jembatan-jembatan
timbuh kokoh merentangi semua sungai dan  lembah yang
ada, tapi siapakah yang akan mampu menjembatani
jurang di antara kita ?
Di lembah – lembah kusam pada pucuk tulang kersang
dan otot linu mengerang mereka pacangkan koyak-
moyak bendera hati dipijak ketidakpedulian pada saudara.
Gerimis tak mampu mengucap kibaran-
nya. Lalu tanpa tangis mereka menyanyi :
padamu negeri
airmata kami

Review
Puisi ini bercerita tentang kegelisahan Sutardji dalam melihat kesenjangan social saat ini yang sudah sangat miris dan orang-orang pinggiran seperti pemulung dan orang yang tidak mampu. Selain itu Sutardji juga mengkritik orang-orang yang tetap cuek walaupun masih satu tempat terhadap lingkungannya dan hanya sibuik dengan urusannya sendiri.
Hal ini merupakan cerminan kenyataan kehidupan saat ini disaat beberapa orang sibuk dengan kekayaan dan hartanya tetapi di sisi lain masih ada orang-orang yang untuk makan saja susah sedangkan kita masih dalam satu negara Indonesia.
Rasa saling memiliki dan kekeluargaan sepertinya perlu ditambah agar tidak terjadi kesenjangan antar manusia agar terciptanya kehidupan yang nyaman dan tenteram tanpa ada kesenjangan antara yang kaya dan miskin.


Review Puisi Joko Pinurbo

Doa Malam
Oleh: M. Fadhil Pratama



Joko Pinurbo selalu saja memunculkan puisi dengan kalimat-kalimat yang sederhana tetapi sarat makna. Seperti dalam puisi Doa Malam yang berbunyi:
 “Tuhan yang merdu terimalah kicau burung dalam kepalaku”
Dalam puisi singkat tersebut sangat jelas bermakna bahwa seorang hamba sedang memohon kepada tuhannya agar mendengar doa-doa dan harapan yang tersimpan dalam benak hamba tersebut. Cukup dengan 8 kalimat yang sederhana, tapi sangat bermakna.

Review Puisi

Review Puisi Joko Pinurbo
RANJANG IBU
Oleh: M. Rizky Perdana


Ranjang Ibu

Ia gemetar naik ke ranjang, 
sebab menginjak ranjang serasa menginjak 
rangka tubuh ibunya yang sedang sembahyang. 
Dan bila sesekali ranjang berderak atau berderit, 
serasa terdengar gemeretak tulang 
ibunya yang sedang terbaring sakit. 

(2004)

REVIEW

Puisi Joko Pinurbo ini terlihat ada kesan humoris, surealis, dan memiliki kesan yang kuat didalamnya. dalam puisi ini joko pinurbo menggambarkan dalam kehidupan kita sebagai manusia seperti diputar-putar, diaduk-aduk. ada kehidupan, kematian, pemberontakan, yang tanpa ada mengabaikan kesan humorisnya.