Jumat, 01 April 2016

RESENSI BUKU "THE INNOVATORS"


ADITYA EKA PRATAMA
14321146  

Judul               : The Innovators
Penulis             : Walter Isaacson
Penerjemah      : Reni Indardini
Penerbit           : PT Bentang Pustaka
Tahun terbit     : 2015
Tebal               : 450

Internet awalnya dibuat untuk memfasilitasi kolaborasi (kerja tim) sementara PC terutama yang ditujukan untuk penggunaan di rumah dirancang guna mengakomodasi kreativitas individual. Perkembangan kemajuan di bidang jaringan komputer dan PC baru bersinggungan pada akhir 80an, berkat munculnya modem, penyedia jasa internet dan World Wide Web. Perkawinan antara komputer dan jaringan terdistribusi Internet mencetuskan Revolusi Digital, sehingga siapapun kini dapat menciptakan, menyebarluaskan, dan mengakses informasi darimana saja. Perkembangan digital saat ini telah memungkinkan orang biasa untuk lebih mudah menciptakan dan berbagi konten.
Siapa sajakah para inovator yang telah menghantarkan kita kepada era digital yang nyaman ini?
Berawal dari ambisi Babbage untuk menciptakan mesin yang dapat menjalankan beragam operasi berdasarkan instruksi pemrograman, dimana alat itu dapat mengerjakan satu tugas lalu beralih mengerjakan tugas lainnya. Meminjam istilah Babbage, mesin yang dapat mengubah ‘pola kegiatannya’. Keinginan Babbage untuk membuat mesin yang ia beri nama dengan mesin analitis ini didorong oleh minat masa kecilnya pada mesin-mesin yang bisa merampungkan pekerjaan manusia.
Ide Babbage untuk mesin analitis impiannya itu terlalu maju untuk zamannya, sehingga ia tidak berhasil menarik perhatian media massa atau pun jurnal ilmiah saat itu. Namun demikian seorang wanita penyuka matematika dan teknologi, Ada Lovelace memercayai mesin impian Babbage. Ia satu-satunya orang yang bisa melihat keindahan dan kegunaan yang menakjubkan dari mesin tersebut. Mesin tersebut tidak hanya mampu untuk menghitung angka dan menjalankan operasi matematika (seperti keinginan Babbage) namun juga berpotensi untuk memproses notasi simbol apapun, termasuk notasi musik dan artistik.
Terinspirasi penggunaan aljabar dalam logika formal yang diajarkan oleh tutornya de Morgan, Ada menegaskan bahwa pada prinsipnya Mesin Analitis bisa menyimpan, memanipulasi, memproses dan menindaklanjuti apapun yang dapat diekspresikan sebagai simbol, entah itu kata, logika, musik, ataupun yang lain-lain.
Pemahaman di atas merupakan konsep inti yang menggerakkan abad digital: konten, data, atau informasi apa saja-musik, teks, gambar, bilangan, simbol, suara, video-dapat dieskpresikan dalam format digital dan dimanipulasi oleh mesin.
Ide kartu berlubang yang ada di mesin tenun jacquard dan dipinjam oleh Babbage untuk mesin analitis rekaannya itu nantinya disempurnakan oleh Herman Hollerith sehingga pas untuk dimanfaatkan dalam komputer.
Mesin Hollerith dan Babbage berkarakter digital. Gagasan mesin analog kemudian muncul oleh karya kakak beradik Lord Kelvin dan James Thomson pada tahun 1870-an. Alat ini mampu melakukan perhitungan kalkulus namun gagal memecahkan persamaan dengan banyak variabel. Kesulitan ini akhirnya terjawab pada 1931 oleh Profesor Teknik dari MIT, Vannevar Bush. Beliau berhasil membuat komputer analog elektromekanis pertama di dunia. Mesin itu diberi nama Differential Analyzer. Mesin ini nantinya bayak digunakan untuk mendidik dan mengilhami para pionir komputer generasi selanjutnya. Namun demikian mesin ini tidak mengambil peran penting dalam sejarah komputer karena karakter analognya. Sebaliknya, Differential Analyzer menjadi cikal bakal berakhirnya mesin analog.
Namun, berbagai pendekatan, teknologi, dan teori anyar bermunculan pada tahun 1937, tepat seratus tahun Babbage kali pertama menerbitkan makalahnya mengenai mesin analitis. Lompatan matematika terjadi pada tahun ini yang salah satunya menghasilkan konsep formal mengenai komputer universal. Dan konsep ini digagas oleh matematikawan brilian asal Inggris, Alan Turing yang terkenal dengan mesin Komputasi Logis atau mesin Turing. Disusul oleh berbagai penemuan dan tokoh pelopor komputer lainnya, Claude Shannon penemu teori informasi sampai Bill Gates, Steve Jobs yang tak asing lagi dan diakhiri oleh komputer buatan IBM, Watson yang memenangi kuis jeopardy di tahun 2011.
Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi tentu tidak berhenti sampai di sini, akan lahir banyak para penerus yang melanjutkan mimpi-mimpi dari para generasi sebelumnya.
Ulasan
Buku ini berkisah tentang kemajuan serempak internet dan PC. Merunut keterkaitan antara perkembangan internet dan komputer. Inilah kisah mengenai para inovator era digital, mereka yang telah berjasa melahirkan revolusi digital.
Ada sebuah kesamaan yang dimiliki para pelopor komputer itu, yaitu mencari cara agar perhitungan matematika (yang itu-itu saja) dapat dikerjakan secara lebih praktis dan cepat.
Kolaborasi antargenerasi ini lah yang melahirkan era digital. Ide yang diwariskan dari satu jajaran inovator ke jajaran berikutnya melahirkan revolusi digital yang luar biasa menakjubkan.
Bekerjasama, kolaborasi adalah nilai-nilai keterampilan hidup yang harus dilatih dan dikembangkan. Kisah salah satu tokoh yaitu John Atanasof membuktikan bahwa amat sukar untuk menjadi penemu yang bekerja sendiri. Kesendirian Atanasof menjadi titik kelemahnnya, karena di sekelilingnya tidak ada orang yang mampu memberikan masukan atau membantu memecahkan tantangan teoretis ataupun teknis.
Yang perlu diingat, kreativitas adalah proses kolaboratif. Kreativitas tidak muncul sendiri. Maka seorang inovator yang baik adalah mereka yang memahami alur perubahan teknologi dan meneruskan tongkat perjuangan inovator terdahulu.
Kelebihan dari buku ini adalah bagaimana penulis melalui kata-kata yang di tulis di bukunya dapat membuat orang menjadi lebih berpikir tidak individual, dan bisa membuat pembacanya termotivasi.
Kekurangan dari buku ini adalah terlalu fokus dengan isi sehingga cover kurang menarik.

Resensi Buku : #TETOT: Aku, Kamu, dan Media Sosial

Nama : Ronaldho Rachman
Nim   : 14321042



JUDUL BUKU      :  #TETOT: Aku, Kamu, dan Media Sosial
PENULIS               :  Ridwan Kamil (@ridwankamil)
PENERBIT            :  Sygma Creative Media Corp., Bandung
CETAKAN             :  6, Januari 2015
TEBAL BUKU       :  xvii + 363 halaman

HARGA                : Rp 56.100



Kebanyakan Anda mungkin sepakat jika saya menyebut bahwa pejabat yang paling getol menggeluti media sosial untuk berinteraksi dengan warganya adalah walikota Bandung saat ini, Ridwan Kamil. “Kang Emil”(sapaan akrabnya) bukan cuma iseng bermain tuts untuk sekadar eksis atau agar terlihat gaya dan gaul. Ia sudah aktif di ranah medsos jauh sebelum jadi orang nomor satu di kota Bandung.

Kang Emil sudah jadi warga Facebook sejak 2008 dan penduduk resmi Twitter setahun setelahnya. Emil sadar sejak awal bahwa media sosial adalah alat ampuh untuk berkomunikasi dengan banyak orang secara langsung, tanpa batas ruang dan waktu. Ketika akhirnya jadi pamong kota, Emil pun makin pédé memanfaatkan medsos sebagai salah satu senjata utama berbincang dengan warganya.

Perhatian publik makin booming setelah Emil membalas tweet tuduhan “asbun” dari Farhat Abbas terkait kebijakannya sebagai walikota seperti WiFi gratis, bis gratis, penggunaan bahasa Sunda, dan seterusnya. Emil cerdas. Alih-alih membuat klarifikasi, ia menjawabnya dengan mesin #TETOT diikuti kalimat pendek santai tapi menohok. Sepertinya, judul buku ini lahir dari peristiwa tersebut.

Meskipun lumayan tebal, #TETOT adalah buku yang sangat asyik dibaca. Ia tidak padat dengan muatan filosofis tentang pentingnya medsos dalam pemeritahan, dan seterusnya dan seterusnya. Emil lebih memilih bercerita santai tentang alasa-alasannnya aktif dalam medsos, hal-hal unik yang dialaminya, dan bagaimana ia mampu membangun partisipasi aktif warga Bandung melaluinya.

Alih-alih menggurui, Emil mencoba berbagi kisah apa adanya dalam delapan bab menarik.

Anak Twitter yang (Kebetulan) Jadi Wali Kota. Emil memulai kisahnya sebagai warga Facebook dan Twitter. Bagi Emil, medsos adalah ruang bersilaturahmi, berdiskusi, dan berbagi ide. Di mata Emil, medsos membawa kebaikan yang nilainya lebih besar dari sekadar untung materi. Manfaat ini bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk kota, negara, bahkan dunia.

Homo Bandoengicus Anu Kreatifus Sekaligus Narciscus. Bagi Emil, anak muda Bandung begitu berbakat, hobi berkelompok, pintar, dan peduli. Kalau semua digabung, Bandung meledak dahsyat. Selain kreatif, modal lain yang menurut Emil tak kalah penting yaitu sifat NARSIS orang Bandung. Lewat medsos, mereka merasa punya arti dan harus berkontribusi. Hal semacam ini harus dipelihara.



Media Sosial dan Inspirasi Obama di Pentas Politik. Berkali-kali disindir “kerjanya hanya twitteran”, dengan santai Emil menanggapinya dengan mengambil contoh apa yang dilakukan Obama via medsos, jauh sebelum ia menjadi presiden Amerika. Work Smart – begitu Emil mengistilahkannya. Nyatanya, keputusannya aktif di dunia medsos memang ampuh meningkatkan partisipasi warga.

Media Sosial, Gerakan Sosial, dan Kolaborasi Kebaikan. Emil sadar sejak awal bahwa fungsi medsos lebih dari sekadar media untuk mengekspresikan diri. Medsos adalah pembentuk gerakan sosial segar yang menginspirasi. Emil pun piawai menggagas aneka program berbasis prinsip ini seperti Bandung Creative City Forum (BCCF), Gerakan Sejuta Biopori, dan Gerakan Pungut Sampah (GPS). Baginya, medsos jadi alat kolaborasi, terlebih warga Bandung “supernarsis sampai tingkat dewa”.

Media Sosial, Kontrol Manajemen, dan Birokrasi Tanpa Sekat. Tak ayal lagi, medsos berperan penting dalam reformasi birokrasi. Hadirnya medsos membuat pejabat saat ini tidak bisa punya alasan untuk tidak berinteraksi dengan warga yang dipimpinnya, kecuali ia sendiri yang ogah. Emil pun melarang rekan-rekan birokratnya gaptek. Ia mewajibkan penggunaan medsos bagi semua dinas pemerintahan dan para pejabat di lingkungan Pemkot dengan sistem pelaporan foto.

Media Sosial, Sharing Informasi, dan Penegakan Aturan. Emil melihat salah satu hambatan tidak optimalnya realisasi aneka program Pemkot selama ini bukan karena program buruk atau kurang uang. Masalahnya, tidak ada pihak yang mengeksekusi karena info tidak sampai ke masyarakat. Lewat medsos, sosialisasi kebijakan jadi jauh lebih cepat dan mudah.

Media Sosial, Berbagi Inspirasi, dan Menuai Sukses Bersama. Selain arena kebijakan dan interaksi, medsos juga bisa mengomunikasikan sesuatu yang lebih intim yakni prinsip hidup. Emil tak ragu-ragu memposting kalimat bijak maupun foto keluarganya yang menginspirasi. Bab ini juga dijamin membuat kita ngakak. Emil tak sungkan membalas tweet curhat warganya dengan aneka candaan. Lewat Ask.Fm, Emil juga bersedia ditanya mengenai kehidupan sehari-harinya.

Media Sosial, Hiburan, dan Bangsa yang Bahagia. Emil menggaris bawahi hal penting yaitu kedewasaan dalam menggunakan media sosial. Poin ini pun turut disinggung dalam bagian penutup buku. Medsos selalu punya dua kepribadian yaitu alat menebar kebaikan sekaligus keburukan, kebencian, dan permusuhan. Jika poin pertama yang dipilih, medsos akan membawa manfaat positif.





Pemikiran-pemikiran Emil dalam #TETOT bukan hanya membuka wawasan soal pentingnya peran teknologi informasi (khususnya medsos) dalam menyosialisasikan aneka kebijakan pemerintah. #TETOT juga memperlihatkan betapa ampuhnya medsos saat ini merangsang kreativitas dan partisipasi publik yang bersifat interaktif alias dua arah.

Saat ini memang sudah banyak birokrat memanfaatkan medsos tapi hanya jadi alat kampanye. Tidak ada dialog di dalamnya. Sebaliknya, Emil memperlihatkan betapa medsos pun harus digunakan sesuai kaidahnya sebagai sarana “bersosialisasi”. Emil tak pernah ja’im (jaga image). Ia menulis tweet apa adanya tanpa sok berfilsafat sehingga warga Bandung pun mengenalnya sebagai sosok pemimpin muda yang gaul, gemar bercanda, asyik, tapi juga cerdas, tegas, dan berbobot.

Secara teknis, buku yang lumayan tebal ini jad sama sekali tidak terasa tebal. Emil dan tim mampu menggodoknya menjadi buku yang renyah untuk dibaca, bahkan ditertawakan. Tawa akan pecah begitu Anda melirik komik-komik grafis di banyak halaman. Komik tersebut adalah ilustrasi beberapa tweet Emil yang memang dikenal doyan bercanda (secara cerdas dan menohok, tentu).

#TETOT adalah paket utuh dari pemikiran Ridwan Kamil soal teknologi informasi, media sosial, kebijakan – manajemen kota, hingga prinsip hidupnya. Semua dikemas kreatif. Buku ini pun jadi referensi yang baik buat mereka yang tertarik meneliti peran media sosial dalam kebijakan publik dan terutama bagi para birokrat yang berniat membuat bangsa ini menjadi lebih baik.

Tak heran ketika mendapat pertanyaan mengapa walikota kok twitteran mulu, Ridwan Kamil dengan santai dapat menjawab: “Mau punya walikota yang gampang dihubungi atau susah dihubungi?”


Resensi "Etika Jurnalisme Prinsip Prinsip Dasar" Zulkarimein Nasution



Nama   : Alma Eka Ganda Wiguna
NIM    : 13321109

Identitas Buku
Judul Buku      : Etika Jurnalisme: Prinsip Prinsip Dasar    
Penulis             : Zulkarimein Nasution
Penerbit           : Rajawali Pers
Cetakan           : Juli, 2015
Jumlah Hal.     : 181
Jumlah Bab     : 8
ISBN               : 978-979-769-870-6

Isi Buku
Dalam buku ini memperkenalkan konsep-konsep dan pengertian dasar tentang etika. Dalam menjalankan aktivitasnya para jurnalistik seperti pada bidang kehidupan lain, profesi jurnalsime memiliki ketentuan etik dan harus tunduk dan terikat pada ketentuan etik tersebut. Hal itu dimaksudkan sebagai panduan sikap dan perilaku mereka agar sejalan dan tidak berbenturan dengn nilai0nilai yang menjadi rujukan dalam kehidupan bersama masyarakat secara keseluruhan. Jurnalisme memerlukan etika sebagai panduan dalam melakukan tugasnya mencari dan menyampaikan kebenaran tugas tersebut dipercaya oleh masyarakat karena percaya bahwa jurnalis akan menjalankan tugas mereka sebaik-baiknya. Pada dasarnya etika memberi arah pada para jurnalis untuk melakukan pekerjaan secara amanah.

Untuk mencapai status sebagai sebuah profesi ada sejumlah kriteria yang harus dipenuhi. Status keprofesionalan jurnalisme hingga kini masih menghadapi berbagai problem. Belum semua kriteria profesi dipenuhi oleh jurnalisme. Namun hal itu tidaklah mengurangi kewajiban seorang jurnalis untuk berusaha berprilaku profesional. Untuk dapat memenuhi misi jurnalisme yang baik, mencari dan menyampaikan kebenaran, profesi ini dibekali dengan sejumlah prinsip etika yang berfungsi sebaga lembaran informasi yang dikumpulkan dan disaring kemudian disajikan kepada khalayak.

Pada bab pertama diterangkan mengenai pendahuluan tentang etika jurnalisme sebagai profesi, seberapa pentingnya sebuah profesi harus memiliki etika sesuai profesinya, persis seperti kapal yang berlayar dimana dibutuhkan kompas dan kemudi untuk mengarahkan kapal tersebut untuk berlayar. Dalam menjalankan aktivitasnya para jurnalis membutuhkan pedoman serta navigasi supaya tak tersesat melaksanakan misinya. Prinsip-prinsip yang utama itu adalah akurasi, indpendensi, objektivitas, balance, dan akuntabilitas kepada khalayak.

Bab kedua menjelaskan tentang pengertian makna dan etika, etika bukanlah sesuatu yang abstrak atau berada di awang-awang. Ia ada ditengah-tengah hidup keseharian kita. Sama konteksnya dengan kita makan, minum, dan bekerja. Dalam pengertian yang sederhana etika merupakan filosofi berprilaku yang berterima di tengah orang lain. Etik mempertanyakan apa yang harus kita perbuat pada situasi tertentu, sebagai sebuah bentuk pertanyaan terus-menerus tentang masalah-masalah praktis, sebab sebenarnya etis adalah tentang aturan-aturan dan pedoman berprilaku sebagai seorang mansuai yang hidpu ditengah manusia lainnya.

Bab ketiga menjelaskan hubungan etis jurnalisme dan publik, etika muncul karena adanya hubungan antar berbagai pihak. Hubungan-hubungan tersebut terus menerus muncul saat melakukan tugas para jurnalis mencari dan menyampaikan kebenaran. Hubungan jurnalisme dengan publik secara etis dapat dilihat dalam tiga perspektif, yaitu hubungan penyedia dengan klien, hubungan pemberi keoercayaan dengan yang diberi, dan hubungan sesama elemen masyarakat. Sebagai konsekuensi dari hidup kebersamaan dengan orang lain makasetiap anggota masyarakat harus menyesuaikan perilakunya dengan apa yang diinginkan masyarakat.

Bab keempat menjelaskan tentang profesi dan etika, keberadaan profesi dulu hanya dikenal beberapa buah profesi saja, seiring berkembangnya dan majunya jaman, jumlah profesi juga bertambah banyak dan kompleks. Menurut catatan munculnya profesi berawal pada jaman pertengahan saat hanya ada tiga bidang yaitu ketuhanan, kedokteran, dan hukum. Dan selanutnya muncul profesi-profesi baru yang diakui.

Bab kelima menjelaskan tentang keprofesionalan dan etika jurnalisme, jurnalisme telah menjadi sebuah bidang studi di perguruan tinggi Amerika Serikat, University of Missouri. Kode etik jurnalistik telah dimiliki disemua tingkatan, mulai dari lingkup lokal hingga internasional dan telah dirumuskan fungsi-fungsi dan tugas-tugas jurnalis. Namun penerapan dan sistem penegakan etika jurnalis masih beragam mengikuti pengarus dan latar belakang sejarah masing-masing negara, di Indonesia, keprofesian jurnalisme masih mengahadp permasalahan diantaranya untuk sebagian wartawan masih belum dapat dikatakan sebagai jurnalis pekerjaan penuh atau full time job, karena masih banyak jurnalis yang merangkap dengan pekerjaan lain.

Bab keenam menjelaskan tentang prinsip-prinsip utama etika jurnalisme dimana jurnalis bertugas untuk pencari dan penyampai kebenaran, kebenaran adalah bagaimana sesuatu hal secara aktual dalam realitasnya, kebenaran adalah keadaan yang benar, akurat, dan jujur, bila sesuatu mengikuti kodratnya maka bisa dikatakan benar. Para khalayak tentunya ingin atau berekpetasi jurnalis yang menyampaikan kebenaran tentang apa yang telah terjadi, karena khalayak tidak bisa untuk secara pribadi memastikan sendiri apa yang terjadi, maka itu perlunya jurnalis sebagai pencari dan penyampai kebenarnan.

Bab ketujuh menjelaskan tentang pelanggaran-pelanggaran etika profesi jurnalisme baik dalan negeri maupun luar negeri. Dalam perjalanan profesi jurnalistik tidak selamanya para jurnalis dan media taat terhadap kode etik. Umumnya pelanggaran terjadi karena jurnalis dan media tidak berhati-hati ataupun tergoda untuk mendapatkan berita yang mengungguli media lain dalam kecepatan memberitakan se=uatu kejadian atau peristiwa. Untuk itulah berbagai macam cara ditempuh guna menyampaikan dan menyiarkan berita yang dimaksud dan etika pun diabaikan begitu saja. Dalam bab ini menjelaskan contoh-contoh kasus media atau jurnalis yang tidak mengindahkan kode etik, salah satu contohnya adalah pemuatan karikatur oleh The Jakarta Post, dimana pada 3 Juli 2014 memberitakan tentang sebuah karikatur tentang kelompok ISIS. Sejumlah kalangan memprotes muatan tersebut dan melakukan pengaduan. Kemudian dewan pers menerima aduan tersebut dan akhirna pihak The Jakarta Post menyampaikan permintaan maaf untuk menunjukan penyesalan dan berkomitmen untuk tidak melakukan kesalahan serupa.

Dan bab terakhir menjelaskan tentang etika jurnalisme dan tantangan masa kini, kecepatan media baru dalam menyampaikan informasi telah menggoda banyak penggunanya untuk mengabaikan metode pembatasan akurasi dan verifikasi yang merupakan esensi nilai jurnalistik. Disamping itu beberapa faktor lain ikut menjadi penyebab, misalnya masalah perekonomian global yang menyebabkan beberapa perusahaan media di Eropa dan Amerika yang membuat perubahan besar dalam jurnalisme.

Tujuan Penulisan Buku
Dalam buku “Etika Jurnalisme: Prinsip Prinsip Dasar” membuka mata kita tentang etika profesi jurnalistik dan permasalahan-permasalahan yang timbul, cukup banyak para jurnalis dan media yang tidak mengindahkan etika karena tuntutan kecepatan dan menyampingkan ketepatan. Penggunaaan etika dalam setiap profesi sangat penting sebagai batasan-batasan perilaku.

Kelemahan Buku
Dalam buku “Etika Jurnalisme: Prinsip Prinsip Dasar” sangat minim kesalahan yang ada didalamnya, kekurangan yang ada hanyalah terdapat kata-kata yang sulit dimengerti.

Kelebihan
Dalam buku ini etika jurnalistik disampaikan dengan sangat jelas sehingga cocok untuk bahan pembelajaran mahasiswan Ilmu Komunikasi, kemudian adanya rangkuman-rangkuman di akhir babnya, selain itu terdapat butir-butir diskusi, contoh kasus yang up to date dan cover yang simple tetapi menarik.

Kesimpulan
Buku ini sangat rekomendasi sebagai salah satu referensi bahan mata kuliah karena dalam buku ini menjelaskan dengan sangat jelas etika profesi jurnalistik selain itu adanya contoh kasus yang terbaru dan cukup terkenal saat masalah tersebut timbul membuka mata dan pikiran kita bahwa nyatanya jurnalisme sekarang tidak tunduk pada kode etiknya, sehingga pentingnya belajar etika keprofesionalan diharapkan supaya kita mampu menjaga kaidah-kaidah dan nilai-nilai etika yang telah disepakati sesuai profesi kita.

Tugas Resensi Buku "Jurnal Komunikasi"

Nama : Fahmi Husaini Sanum
Nim    : 14321113 
Judul : Jurnal Komunikasi Volume 9
Terbit : Oktober 2014
Oleh : Noval Sufriyanto Talani
Dicetak Oleh : Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya, Universitas Islam Indonesia.
Sub Judul : Esensi Interaksi Visual dalam Dunia Facebook yang Virtual
Latar Belakang : Sebagai dunia virtual atau juga disebut cyberspace, Internet menjadi kehidupan kedua bagi masyarakat kontemporer (Zhapiris dan Ang, 2010:205; Mitra, 2010: 48). Yang dimaksud kehidupan kedua, karena melalui rekayasa teknologi digital, subtitusi ruang ruang sosial di dunia nyata diwujudkan dalam bentuk artifisial. Sehingga wujud wujud artifisial dari ruang ruang sosial menjadi semacam simulasi sosial, dimana berbagai simulasi itu menemukan tempat hidupnya diruang yang disebut cyberspace. sebagai makhluk sosial, manusia butuh interaksi dengan orang lain. melalui interaksi manusia dapat berhubungan dan berkolaborasi dengan menunjukan eksistensi dirinya dalam ruang sosialyang melingkupinya.  sosial media mampu memenuhi kebutuhan itu, dimana seseorang dapat berinteraksi dengan orang lain tanpa dibatasi ruang dan waktu. 
Metode: Peneliti menggunakan metode kualitatif sehingga  akan menghasilkan data deskriptif. 
Kerangka Teori : Pendekatan menekanan pada pengamatan dahulu dan wawancara mendalam terhadap sepuluh orang pengguna facebook, lalu menarik kesimpulan berdasarkan pengamatan tersebut. seluruh aktivitasnya difacebook termasuk interaksi para pengunanya dilakukan secara simbolik. berbagai simbol simbol yang digunakan dalam interaksi berfungsi sebagai representasi suatu tindakan. secara khusus simbol ekspresi banyak digunakan para facebookers secara bebas untuk menunjukan respon ( perasaan dan ekspresi). setiap informan memiliki simbol khusus yang sering ia gunakan untuk mengungkapkan ekspresinya. 
Kesimpulan : Sosial media sebagai media interaksi masyarakat masa kini telah menghilangkan kendala ruang dan waktu berinteraksi. dimana setiap orag dapat berinteraksi dengan siapapun, kapanpun dan dimana saja sepanjang ia terkoneksi kedalam jaringan internet atau kehidupan keduanya terus berlangsung. dengan dukungan GUI, daya tarik sosial media semakin memikat. fitur fitur yang berbasis GUI telah memudahkan pengguna memahami perintah di sosial media sekaligus mengatur bagaimana mereka bekomunikasi melalui fitur fitur itu.