Jumat, 01 April 2016

RESENSI BUKU "MEDIA DAN KOMUNIKASI POLITIK DI INDONESIA"



Nama   : Antonio Muhamad Ari
NIM    : 13321156

TUGAS PENULISAN KREATIF “RESENSI BUKU”

Resensi Buku “Media & Komunikasi Politik di Indonesia”
Identitas Buku :
Judul               : Media & Komunikasi Politik di Indonesia  
Penulis             : Playgoup.com
Penerbit           : Lingkar Media
Kota Terbit      : Yogyakarta
Tahun Terbit    : 2010
Cetakan           : Ke-1
Deskripsi Fisik : 248 hal; 14 x 20,5 cm
ISBN               : 979-98426-13-9
Resensi adala suatu ulasan atau tulisan mengenai nilai sebuah hasil karya, dengan tujuan menyampaikan kepada para pembaca apakah sebuah buku atau hasil karya itu patut mendapat sambutan dari masyarakat atau tidak. Tindakan meresensi dapat berarti memberikan penilaian, mengungkap kembali isi buku, membahas atau mengkritik buku.
·         Judul Resensi
Relasi Media dan Komunikasi Politik
Buku yang ditulis oleh beberapa orang yang disebut sebagai Playgroup.com tersebut berisi tentang bagaimana relasi media dan komunikasi politik di Indonesia. Sesuai dengan apa yang terjadi di Indonesia pada tahun 2000an, memang sangat menarik apabila buku ini di terbitkan karena sesuai dengan apa yang sedang marak terjadi pada kala itu, yaitu banyaknya peran media dalam bidang politik yang kemudian menimbulkan aspek-aspek komunikasi politik oleh suatu media.

·         Data Buku
            Buku yang diterbitkan dengan judul “Media dan Komunikasi Politik di Indonesia” merupakan buku hasil langsung dari para penulis sendiri, atau dengan kata lain buku tersebut merupakan bukan buku hasil terjemahan seseorang. Buku tersebut terbentuk oleh beberapa penulis, yaitu didalamnya ada sebanyak 48 penulis yang mengisi bagian dalam buku. Penulis atau pengarang yang menulis isi buku merupakan mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia pada tahun 2010 yang mengambil kelas perkuliahan “Komunikasi Politik Kelas A”, yang kemudian dijadikan dengan nama Playgroup.com. Sesuai dengan mata kuliah yang penulis ambil, yaitu Komunikasi Politik, maka besar kemungkinan itulah alasan buku tersebut diterbitkan dengan judul “Media dan Komunikasi Politik di Indonesia”.
            Didalam buku yang ditulis oleh beberapa pengarang (Playgroup.com) tersebut juga terdapat beberapa bagian pembantu atau pihak lain dalam penerbitannya, yaitu terdapat kepala editor, desain sampul, dan tata letak buku. Antara lain :
Editor                          : Fajar Junaedi
Desain Sampul            : Herpri Yanto (Radar Jogja)
Tata Letak                   : Bintang Putra Hidayat
            Buku karangan Playgroup diterbitkan pertama kali tahun 2010 atas kerjasama dengan penerbit yaitu Lingkar Media Yogyakarta. Dan sebagai hak cipta oleh Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.
·         Pembahasan Resensi
Pada umunya buku tersebut merupakan beberapa tulisan seseorang yang kemudian digabung menjadi sebuah buku dengan tema yang sama, yaitu media dan komunikasi politik. Didalam isi buku terdapat banyak fokus bahasan mengenai media dan politik, serta terdapat 6 (enam) bagian topik pembahasan, yaitu:
-          Bagian Pertama           : Media dan Komunikasi Politik
-          Bagian kedua              : Kampanye dan Komunikasi Politik di Indonesia
-          Bagian Ketiga             : Iklan Politik dalam Komunikasi Politik
-          Bagian Keempat         : Citra dalam Komunikasi Politik
-          Bagian Kelima : Internet, Media Baru, dan Facebook dalam Komunikasi Politik
-          Bagian Keenam           : Komunikasi Politik Kelompok Penekan dan Selebriti
Dimana setiap bagian mempunyai beberapa nama pengarang yang berbeda-beda. Selain itu jika dibanding dengan buku-buku lain (sejenis), buku ini termasuk buku yang bagus dan lengkap. Yaitu mempunyai pokok bahasan yang sangat lengkap kaitannya dengan media dan dunia politik di Indonesia. Namun bedanya jika buku lain yang sejenis dicetak atau direvisi beberapa tahun sekali, namun tidak demikian dengan buku ini. Mungkin salah satunya karena faktor banyaknya penulis, dan banyak dari penulis yang sudah mempunyai fokus pada bidang lain. Penulisan kalimat atau kata yang digunakan didalamnya juga tergolong rapi, hal itu terjadi karena jumlah penulis yang banyak dan fokus pada tema bahasan masing-masing. Hal tersebut tentunya tidak terlihat pada buku-buku lain.
-          Ciri khas buku
Terdapat banyak ciri khas yang dimiliki buku tersebut. Ciri khas dari buku yang ditulis oleh Playgroup.com ini yaitu mempunyai cover depan dan belakang yang unik, serta isi buku yang menarik. Cover buku dapat dikatakan menarik karena walaupun pembahasannya tentang media dan komunikasi politik namun sampul yang terdapat diluar yaitu gambar karikatur yang tergolong lucu dan menghibur. Selain itu isi didalamnya juga sangat lengkap, dimana setiap media itu dikaitkan dengan bidang politik, mulai dari televisi sampai media sosial. Selain itu yang menjadi buku tersebut sangat unik yaitu ditulis atau dikarang oleh banyak orang (pengarang) asli. Mungkin ada beberapa buku juga yang isinya ditulis oleh banyak orang, namun kemungkinan besar hanya beberapa saja. Tidak sebanyak penulis dalam buku “Media dan Komunikasi Politik di Indonesia” ini yang berjumlah 48, yang semuanya adalah mahasiswa satu kelas pada mata kuliah yang sama.
-          Keunikan buku
Buku tersebut diterbitkan dengan mencantumkan beberapa sponsor dibagian cover depan dan cover belakangnya. Selain mencantumkan nama penerbitnya (Lingkar Media), buku tersebut juga menggunakan relasi atau hubungan kerjasama dengan organisasi lain, dan kemudian di cantumkan pada cover. Organisasi yang dicantumkan didalam cover tersebut yaitu Unisi radio UII, Radar Jogja, Kedai Nusantara, AFR, Panembahan Tur, Kopma UII, Sparkling. Pencantuman yang diletakan pada bagian cover depan dan belakang tentu menjadi keunikasi tersendiri bagi buku tersebut.
-          Keunggulan dan Kelemahan Buku
Setiap buku yang terbit dan sampai pada penghilatan pembaca tentu mempunyai keunggulan dan kelemahan tersendiri. Begitupun dengan buku ini. Buku media dan komunikasi politik ini mempunyai bebera kenggulan, yaitu:
1.      Penggunaan kertas yang tebal dan berkualitas. Penggunaan bahan atau kertas yang ada dalam sebuah maka akan sangat menentukan daya tarik pembaca. Penggunaan bahan baik sampul dan bagian dalam yang digunakan dalam buku tersebut tergolong bagus. Karena walaupun terbitan tahun 2010 namun masih terlihat seperti baru.
2.      Isi pembahasan yang beraneka ragam. Dengan memuat tema bahasan yang banyak maka akan membuat pembaca tidak bosan dalam membaca, serta akan mempunyai wawasan yang lebih luas.
3.       Dilengkapi dengan gambar/karikatur yang menarik menjadi daya tarik tersendiri bagi pembaca.
Kemudian terdapat juga kelemahan yang dimiliki, yaitu :
1.      Terlalu banyak penulis, sehingga membuat pembaca bingung dalam menggunakan buku tersebut sebagai sumber materi atau bahan rujukan, seperti pada penulisan daftar pustaka.
2.      Terbatas, karena buku tersebut merupakan hasil karya mahasiswa Ilmu Komunikasi UII maka jumlah yang ada menajadi terbatas.
3.      Profil Penulis Buku tidak lengkap
-          Tinjauan Bahasa
Bahasa yang digunakan dalam buku tersebut sangat mudah dipahami, jelas, dan tidak berbelit-belit. Jika ada bahasa yang terlalu sulit untuk dimengerti itu adalah bersumber dari sebuah kutipan seseorang. Pada dasarnya penggunaan bahasa didalam buku tidak ada yang salah, karena memang pada dasarnya buku tersebut dibuat oleh mahasiswa Universitas Islam Indonesia dengan bahasa baku yaitu bahasa Indonesia.
·         Isi Buku
Media dalam komunikasi politik akan sangat memainkan peran besar dalam mengawasi kegiatan politik. Melalui pemberitaan berbagai media, masyarakat dapat menilai bagaimana kualitas para petinggi politik di Indonesia. Bisa dibayangkan jika tidak ada media massa, maka tidak ada pula komunikasi politik. Media, tentu saja telah menjadi elemen penting dalam proses komunikasi politik. Inilah yang membuat buku yang ditulis dengan semangat kreativitas dalam bingkai atmosfer akademik, sehingga layak untuk dibaca oleh para pembaca.
Perkembangan komunikasi politik di Indonesian adalah fenomena yang menarik untuk dikaji dan diamati secara akademis. Kejatuhan orde baru yang kemudian berimplikasi pada dibukanya kran demokrasi telah meyebabkan aktivitas komunikasi politik di Indonesia bergeliat. Komunikasi politik di Indonesia tidak lagi berupa arak-arakan kampanye atau orasi dilapangan oleh para juru kampanye, namun juga telah mengadopsi teori komunikasi politik modern, yang sebelumnya telah diaplikasikan oleh negara-negara maju, seperti menggunakan kegiatan periklanan dan kehumasan dalam komunkasi politik.
Iklan-iklan politik membanjiri berbagai media massa, disekitar pemilu, pilpres, maupun pilkada, media sosial internet, seperti facebook, juga digunakan sebagai media dalam membangun komuniaksi politik untuk memperoleh dukungan dari masyarakat. Konsultan Komunikasi politik laris manis dipinang oleh para aktor politik untuk mengemas citra para kandidat yang bertarung. Media dalam komunikasi politik juga memainkan peran besar dalam mengawasi kegiatan politik para aktor politik. Melalui pemberitaan berbagai media, masyarakat dapat menilai bagiamana kualitas para aktor politik. Bisa dibayangkan jika tidak ada media massa, pasti tidak komunikasi politik yang lancar.   
Buku yang dibuat oleh mahasiswa penyuka mata kuliah Komunkasi Politik (Kompol) dilingkungan Program Studi Ilmu Komunikasi FPSB Universitas Islam Indonesia (UII) merupakan sebuah terobosan. Sebagai terobosan, maka mereka masih ‘terabas terobos’. Bukan mutu isi tulisannya yang penting, tetapi keberanian yang terwujud dalam sebuah buku sebagai ‘monumen’. Media dan Komunikasi adalah ilmu lintas perspektif, lintas kajian dan mitra kreatif. Komunikasi politik adalah ranah paling ‘seksi’ untuk Indonesia yang sedang melepaskan diri dari jerat politik tradisional. Komunikasi politik yang sehat adalah tujuan memecah kebuntuan partisipasi politik yang berbasiskan kesadaran obyektif. Sekecil apapun kajian komunikasi politik dalam buku ini, ia akan berkontribusi kepada tujuan itu. Tentu saja setiap formula komunikasi berbeda kekuatan dan kelemahannya. Dan buku ini adalah media yang tergolong ‘tua’ tetapi tetap disuka. 

·         Penutup Resensi Buku
Buku dengan judul “Media dan Komunikasi Politik di Indonesia” ini sangat penting bagi kalangan mahasiswa ilmu komunikasi atau ilmu sosial lain (Fisipol), serta penting untuk para publik figur politik di Indonesia mengenai penggunaan media untuk kampanye, dll. Buku tersebut juga dapat dijadikan sebagai beberapa referensi mata kuliah dibeberapa mata kuliah, seperti salah satunya adalah Komunikasi Politik, atau mata kuliah lain yang berkaitan dengan ilmu sosial dn politik. Diharapkan dengan adanya resensi buku Media dan Komunikasi Politik di Indonesia ini akan menjadikan beberapa pihak membaca kembali buku karangan mahasiswa (laygroup.com) ini.    

Abdurahman Saleh

14321128

 Resensi buku kreatif mengembangkan media pembelajaran 



           Secara sederhana media merupakan apa saja yang digunakan sebagai media dalam pembelajaran. Media pembelajaran dapat dipahami sebagai segala sesuatu yang dapat menyampaikan atau menyalurkan pesan dari suatu sumber secara terencana, sehingga terjadi lingkungan belajar yang kondusif dimana penerimaanya dapat melakukan proses belajar secara efesien dan efektif.
Sumber belajar adalah segala sesuatu yang ada di sekitar lingkungan kegiatan belajar yang secara fungsional dapat digunakan untuk membantu optimalisasi hasil belajar. Sedangkan alat peraga adalah alat atau bahan yang digunakan oleh pebelajar untuk membantu pembelajar dalam meningkatkan keterampilan dan pengetahuan pembelajar, mengilustrasikan dan memantapkan pesan informasi, dan menghilangkan ketegangan dan hambatan dan rasa malas peserta didik.

              Media memiliki peran dan fungsi strategis yang secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi motivasi, minat dan atensi peserta didik dalam belajar serta mampu memvisualisasikan materi abstrak yang diajarkan sehingga memudahkan pemahaman peserta didik. Selain itu, media mampu membuat pembelajaran lebih menarik, pesan dan informasi menjadi lebih jelas serta mampu memanipulasi dan menghadirkan objek yang sulit dijangkau oleh peserta didik. Melalui media peserta didik memperoleh pesan dan informasi sehingga membentuk pengetahuan baru pada diri siswa. Berikut ini fungsi media pembelajaran yaitu:

1.Fungsi semantik
2.Fungsi manipulatip
3.Fungsi fiksatif
4.Fungsi distributif
5.Fungsi psikologis

Manfaat media pembelajaran antara lain:
  • Memperluas cakrawala sajian materi pembelajaran.
  • Peserta didik memperoleh pengalaman beragam selama proses pembelajaran.
  • Memberikan pengalaman belajar yang konkret dan langsung kepada peserta didik.
  • Menyajikan sesuatu yang sulit diadakan, dikunjungi atau dilihat oleh pesert didik.
  • Memberikan informasi yang akurat dan terbaru.
  • Menambah kemenarikan tampilan materi sehingga meningkatkan motivasi dan minat.
  • Merangsang peserta didik untuk berfikir kritis, menggunakan kemampuan imajinasinya.
  • Meningkatkan efisiensi proses pembelajaran.
Jenis jenis media pembelajaran :

1.Media audio visual
2.Multimedia
3.dll
  

Resensi Buku : Identitas dan Kenikmatan: Politik Budaya Layar Indonesia

Nama : Irfan Suryahadi
Nim   : 14321056


·  Judul Buku     : Identitas dan Kenikmatan: Politik Budaya Layar Indonesia
·  Penulis             : Ariel Heryanto
·  Penerjemah     : Eric Sasono
·  Penerbit           : Kepustakaan Populer Gramedia
·  Cetakan            : 2015, xvi + 350 halaman
.  Tahun terbit    : 29 juni 2015
.  Harga                : Rp. 51.000 


         Buku ini berisi tentang bagaimana kelas menengah, terutama di lingkungan perkotaan, merumuskan dan mencari identitasnya di dekade yang menawarkan berbagai kebebasan, sekaligus juga ketakutan. Proses pencarian identitas tersebut bisa dilihat dari representasi dan peran serta kelompok tersebut dalam budaya layar, baik itu televisi, film, dan tak terkecuali media sosial. Dari sana kita juga bisa melihat bagaimana peran teknologi media dalam kontestasi perebutan tafsir mengenai Islam, sentiment anti-Tionghoa, demam K-Pop, termasuk juga selebritisasi politik di Indonesia.
        Sebelum sampai ke pembahasan mengenai kontestasi dan perumusan identitas kelas menengah tersebut, Ariel mengawali bukunya dengan penjelasan kondisi Indonesia di era reformasi yang menurutnya mirip dengan apa yang terjadi pada dekade awal pasca kemerdekaan 1945. Dalam dua periode tersebut, pasca jatuhnya rezim otoriter yang berkuasa sekian lama, Indonesia dengan susah payah mencoba bangkit menjadi negara-bangsa yang terhormat, modern, dan berdaulat.

      Indonesia di masa-masa yang demikian adalah negeri yang berjalan tertatih, penuh harapan, namun terluka. Bunga-bunga harapan bermekaran, tapi banyak yang layu sebelum waktunya. Salah satu penyebabnya, pengalaman panjang represi politik telah membuat titik-titik yang sebelumnya disumbat menjadi meledak. Perkara identitas yang sebelumnya dibungkam, tiba-tiba menimbulkan gejolak luar biasa di era transisi demokrasi. Tak ada otoritas yang berkuasa penuh. Pusat-pusat kekuasaan luruh dan menyebar ke titik-titik terjauhnya.

       Berbagai kelompok mencoba melakukan eksperimen demokrasi sebagai konsekuensi kebebasan yang baru saja didapat. Eksperimen yang segera saja berhadapan dengan situasi chaos. Kerusuhan antaretnis yang terjadi di beberapa tempat seperti di Ambon, kebebasan pers yang membawa bonanza industri media namun pada akhirnya membawa media berhadap-hadapan dengan warga (cermati banyaknya kantor media yang digeruduk warga yang tidak puas karena pemberitaan), sampai benturan tafsir agama dan munculnya elemen kekuatan Islam politik yang di era sebelumnya direpresi. Ketidastabilan politik juga terjadi yang ditandai benturan elemen-elemen reformasi berhadapan dengan sisa-sisa Orde Baru.

        Dalam konteks industri media, dekade pasca-Soeharto menawarkan kebebasan yang luar biasa. Arus modal mengalir kencang tanpa adanya pengekangan-pengekangan politik. Kebebasan pers pada tahap tertentu tidak hanya berarti “kebebasan dari” melainkan sudah sampai menjadi “kebebasan untuk”. Gerak kapital industri media berjalan dalam dua tahap, melalui proses spasialiasi horizontal (pemusatan kepemilikan media di beberapa kelompok), tetapi juga spasialisasi vertikal (penggabungan beberapa jenis industri termasuk media dalam satu kontrol kepemilikan).

Potret dalam Budaya Layar
     Pada kondisi semacam itu, Ariel memotret pergulatan identitas kelas menengah Indonesia melalui budaya populer. Budaya populer yang dimakud dalam buku ini bermakna dua hal: berbagai gambar, suara, dan pesan yang diproduksi secara massal oleh industri hiburan termasuk proses pemaknaan yang dilakukan oleh konsumen, dan kedua, berbagai bentuk praktik komunikasi yang bukan hasil industrialisasi karena relatif lebih independen, tidak bertujuan komersil, dan disebarkan melalui forum-forum khusus.
    
  Setidaknya ada beberapa isu yang dipotret dalam buku ini: proses islamisasi (yang menandai gelombang besar pengerasan identitas masyarakat Indonesia pasca-Orde Baru), wacana tragedi 1965 yang didiskusikan dengan besar-besaran, sentimen anti-Tionghoa yang semakin menguat dan terus direproduksi, gejala K-Pop atau asianisasi kelas menengah perkotaan, sampai personalisasi politik yang membuat dunia politik serupa panggung hiburan.

     Dalam proses islamisasi, kontestasi perebutan tafsir atas Islam bisa dilihat dari produk budaya populer seperti film. Menggunakan film Ayat-Ayat Cinta, Perempuan Berkalung Sorban, dan Ketika Cinta Bertasbih, Kiamat Sudah Dekat, dan Catatan Si Boy, Ariel mencoba lepas dari perdebatan apakah semakin banyaknya film bertema Islam menandakan proses meningkatnya ketakwaan beragama masyarakat, atau pada sisi lain, sedang berjalannya proses komodifikasi agama.
       
        Proses islamisasi tersebut mesti dipahami dalam kerangka perkembangan kapitalisme industrial di Indonesia. Tak terkecuali juga munculnya orang kaya baru yang mencoba mendifinisikan pemaknaan “menjadi muslim ideal” yang berbeda dari apa yang kerap dipropagandakan lembaga –lembaga otoritas keagamaan. Pada titik ini, Ayat-Ayat Cinta memperlihatkan benturan paling ideal antara kelompok Islam, dari yang liberal sampai konservatif – yang pada gilirannya ada yang menyebut sebagai radikal – , juga industri yang berorientasi keuntungan finansial.

          Sementara itu, dalam sentimen anti-Tionghoa yang semakin ke sini semakin menguat, kebencian ini berakar panjang dalam penyingkiran eksistensi etnis ini “baik di layar maupun belakang layar”. Meskipun etnis Tionghoa bukan satu-satunya kelompok minoritas yang menjadi korban represi negara dalam waktu yang panjang, Ariel menilai bahwa bahasan etnis Tionghoa menarik dibentangkan karena diskriminasi terhadap mereka juga khusus.

          Salah satunya karena banyaknya orang Tionghoa menjadi tokoh penting dalam seni pertunjukan baik di panggung maupun film. Jika melihat pada politik penyingkiran yang dilakukan rezim Orde Baru, hal ini memang terasa ironis. Peran penting mereka hendak dihapuskan secara total dari sejarah resmi dan ingatan publik. Ariel, dengan menggunakan kajian yang dilakukan Krishna Sen, menjelaskan bagaimana isi film-film yang dibuat Teguh Karya (sutradara beretnis Tionghoa). Teguh adalah orang yang memiliki peran besar dalam industri perfilman di Indonesia, meski, perannya itu pelan-pelan dipinggirkan.

Identitas
         Membaca buku ini memberikan gambaran yang cukup utuh bagi kita untuk melihat identitas kelas menengah di Indonesia pasca-Orde Baru. Kelas yang berisik di media sosial, rentan secara posisi sosial, namun cukup berpengaruh dalam menentukan wajah Indonesia hari-hari ini. Identitas kelas menengah memang bukan sesuatu yang tunggal. Ia dibentuk melalui dialektika yang terus-menerus bertumbukan. Perkembangan teknologi media, pada titik ini, menjadi faktor signifikan dalam tumbukan-tumbukan tersebut.

       Tumbukan-tumbukan yang terus terjadi tersebut juga menjelaskan beberapa paradoks identitas yang ada, misalnya, gelombang sentimen anti-Tionghoa – utamanya dalam hal politik –  yang mengeras namun terjadi penerimaan terhadap K-Pop atau asianisasi budaya populer. Dalam konteks islamisasi juga misalnya, ia melahirkan keberadaan anak-anak muda yang terpukau dengan kelompok-kelompok radikal semacam ISIS. Persis karena ISIS berhasil memberikan identitas yang mereka cari, seperti K-Pop. Buku ini adalah potret Indonesia kekinian.